Cara Membuat Footnote Yang Benar Beserta Contohnya

footnote atau catatan kaki

Lanjutan dari postingan sebelumnya, yaitu Cara Penulisan Kutipan Yang Benar Beserta Contohnya, pada kesempatan ini saya akan share materi dari dosen saya, Ibu Isriani Hardini, M.A.

Jika pada postingan sebelumnya saya sudah membagikan cara membuat kutipan dan daftar pustaka, maka pada postingan ini saya akan membagikan bagaimana cara membuat footnote yang benar.

Langsung saja...

Footnote atau catatan kaki merupakan keterangan-keterangan atau teks karangan yang ditempatkan pada kaki halaman akhir bab, dan pada tempat tersendiri (lampiran) karangan yang bersangkutan. 

Tujuan catatan kaki adalah untuk menyusun pembuktian, menyatakan utang budi, menyampaikan keterangan tambahan, dan merujuk bagian lain dari teks.

Footnote dapat juga berisi komentar mengenai suatu hal yang dikemukakan dalam teks, seperti keterangan wawancara, pidato di televisi, dan lain-lain. Gelar akademik dan gelar kebangsawanan tidak disertakan serta nama pengarang/penulis tidak dibalik.

Teknik pembuatan catatan kaki

1. Memberi nomor penunjukan yang sama.
2. Menyediakan ruang secukupnya pada halaman kaki bawah + 3 cm kalau dibuat pada halaman yang sama.
3. Spasi rapat
4. Catatan kaki tidak boleh penyebutan dua kali dan digantikan dengan singkatan: Ibid, op.cit atau loc.it dan sebutkan nomor yang dirujuk.

Cara pembuatan catatan kaki

a. Nama pengarang ditulis lengkap, tidak dibalikkan.
b. Pengarang dan judul buku dipergunakan tanda koma.
c. Tempat dan tahun terbit ditulis dalam kurung dan halaman di luar kurung.
d. Footnote berkaitan dengan jumlah pengarang

Cara membuat footnote yang benar

Pengarang satu orang

Antropologi linguistik memandang bahasa melalui prisma dalam konsep inti antropologi, budaya, dan mencari makna tersembunyi di balik penggunaan, penyalahgunaan bahasa, dalam bentuk yang berbeda, yaitu register dan gaya bahasa.¹

             ¹William A. Foley, Anthropological Linguistics: An Introduction (Oxford: Blackwell Publisher Ltd, 1997), hlm. 21.

Pengarang dua atau tiga pengarang

             ¹S Nasution dan M. Thomas, Buku Penuntun Membuat Tesis, Skripsi, Disertasi, Makalah (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), hlm. 35.

Pengarang lebih dari tiga orang

             ²Florence B Stratmeyer, dkk., Developing a Curriculum for Modern Living (New York: Bureau of Publications Teachers College, Columbia University, 1957), hlm. 56-149.

Buku yang terdiri atas dua jilid atau lebih

            ³A.H. Lightstone, Concepts of Calculus, Vol. 1 (New York: Harper & Row, 1966), hlm. 75.

Buku yang merupakan kumpulan karangan, yang dicantumkan hanya nama editornya

            ³Lukman Ali, (Ed.), Bahasa dan Kesustraan Indonesia, sebagai Cermin Manusia Indonesia Baru (Djakarta, 1967), hlm. 84-85. 

Sebuah terjemahan

            ³Maltatuli, Max Havelaar, atau Lelang Kopi Persekutuan Dagang Belanda, terjemahan H.B. Jassin (Jakarta, 1972), hlm. 50.

 Artikel dalam Ensiklopedi

    ³T. Wright, “Language Varieties: Language and Dialect,” Encyclopedia of Linguistics, Information and Control (Oxford: Pergamon Press Ltd., 1969), hlm. 243-251.

Referensi pada Artikel Majalah  atau Jurnal

    ³Kusmin, “Gaji Guru antara Das Sollen dan Das Sein” (Semarang: Derap Guru Jawa Tengah, No. 73, Februari, VII, 2006), hlm. 27-28

Makalah

            ³ Din Syamsuddin, “Peranan Golkar dalam Pendidikan Politik Bangsa,” Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Peranan Pendidikan Islam dalam Pendidikan Politik di Indonesia yang  diselenggarakan Fakultas  Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 19-21 Mei 1996.

Referensi pada Surat Kabar

³Ridwan Malik, “Pembiayaan Kesehatan di Indonesia” (Jakarta: Kompas, 6 September 1988), hlm. 4.
³Rancangan Undang-Undang Pendidikan Nasional (Jakarta: Kompas, 5 September 1988), hlm. 4.

Referensi dari Skripsi, tesis, dan disertasi 

⁴Surjo Sumarsono, “Saran-Saran untuk Memperbaiki Pendidikan Jasmani,” Skripsi Sarjana Pendidikan (Bandung: Perpustakaan IKIP Bandung, 1960), hlm. 20.

Interview atau wawancara

⁵Rahmat Hidayat, Ketua Pengadilan Tinggi Agama Bandung, Wawancara Pribadi, Jakarta, 4 Desember 1987.

Pidato di Televisi

⁶Penjelasan A. Latief dalam Siaran Pembinaan Bahasa Indonesia melalui TVRI, Selasa, 4 Agustus 1987 pukul 20.35 WIB.

Website atau Blog

      ⁶Pupu Saeful Rahmat, “Wacana Pendidikan Multikultural di Indonesia: Sebuah Kajian terhadap Masalah-Masalah Sosial yang Terjadi Dewasa Ini,” 4 April 2008, (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/04/04/wacana-pendidikan-multikultural-di-indonesia/), Diakses 15 April 2010.

Referensi dari sumber kedua

       ⁶M. Ramlan, “Partikel-Partikel Bahasa Indonesia,” Seminar Bahasa Indonesia 1968 (Ende: Nusa Indah, 1971), hlm. 122, mengutip Charles F Hockett, A Course in Modern Linguistics (New York: The Mac-Millan Company, 1959), hlm. 222. 

Apabila suatu buku dikutip berkali-kali, penulisan catatan kaki yang kedua dan seterusnya dapat menggunakan singkatan. Ketentuannya adalah sebagai berikut.

1. Ibid, kependekandari ibidem, yang mengandung arti ‘pada tempat yang sama’ atau ‘pada pekerjaan yang sama’. Ibid dipakai apabila suatu kutipan diambil dari sumber atau buku yang sama dengan sumber atau buku yang disebutkan sebelumnya secara berturut-turut dengan halaman yang sama atau yang berbeda. Jika halamannya berbeda, setelah kata ibid, sumber itu cukup ditulis nomor halamannya saja.

Contoh penggunaan ibid;

        ⁶Peg C. Neuhauser, Legenda Manfaatnya bagi Perusahaan, terj. Teguh Rahardja (Jakarta: Pustaka Binaman Presindo, 1994), hlm. 13-34.
           ¹Ibid. 
   ³Hernowo, Mengikat Makna (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 109-130.
          ⁴Ibid., hlm. 133-145.

2. Op.cit, kependekan dari opera citato, yang mengandung arti ‘pada karangan yang telah dikutip’. Op.cit dipakai apabila suatu kutipan diambil dari sumber yang telah disebutkan sebelumnya, namun sumber itu telah diselingi oleh sumber lain dalam halaman yang berbeda. 

Contoh penggunaan Op. cit.;

           ⁶Satjipto Rahardjo, Hukum Masyarakat dan Pembangunan (Bandung: Alumni, 1976), hlm. 111.
           ⁷Daniel Goleman, Emotional Inteligence (Jakarta: Gramedia, 2001), hlm. 161.
     ³Bobby Deporter dan Mike Hernacki, Quantum Business, terj. Basyarah Nasution (Bandung: Kaifa2000), hlm. 63-87. 
          ⁹Satjipto Rahardjo, Op.cit., hlm. 125.
          ⁴Daniel Goleman, Op.cit., hlm. 165
          ¹Booby DePorter dan Mike Hernacki, Op.cit., hlm. 203-238.

3. Loc.cit, kependekan dari loco citato, yang mengandung arti pada tempat/halaman yang telah dikutip. Loc.cit dipakai apabila suatu kutipan diambil dari sumber yang sama, tetapi telah diselingi sumber kutipan lain dalam halaman yang sama.  

Contoh penggunaan Loc. cit.;

    ⁶Sarwiji Suwandi, “Peran Guru dalam Meningkatkan Kemahiran Berbahasa Indonesia Siswa Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi,” Kongres Bahasa Indonesia VIII (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, 2003), hlm. 14.
     ⁸Abraham H. Maslow, Motivasi dan Kepribadian 2, terj. Nurum Imm.(Jakarta: Pustaka Binaman Presindo, 1994), hlm. 1-40.
        ⁴ Sarwiji Suwandi, Loc.cit. (halaman tidak ditulis karena halamannya sama)
        ⁶Adnan Buyung Nasution, “Beberapa Aspek Hukum dalam Masalah Pertahanan dan Pemukiman Kota Besar,” dalam Eko Budihardjo Sejumlah Masalah Pemukiman Kota (Bandung: Alumni, 1992), hlm. 20.
        ⁵Sarwiji Suwandi, Loc.cit.
        ⁷Adnan Buyung Nasution, Loc.cit.


Sekali lagi saya berterima kasih kepada Ibu Isriani Hardini, M.A.. Seperti biasa, sekian dan terimakasih.
Semoga bermanfaat.

Artikel Terkait

Cara Membuat Footnote Yang Benar Beserta Contohnya
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Untuk mempermudah Anda, gunakan opsi Google, LiveJournal, Wordpress, TypePad, AIM, OpenID, Name/URL, dan Anonymous untuk berkomentar. Terimakasih